Dewa Kecil Kami


Kami adalah manusia-manusia kerdil yang hidup di daerah terpencil. Tempat yang  mudah diabaikan orang saat membuka peta. Tak hanya orang-orang saja yang mengabaikan kami, tapi juga para dewa. Setidaknya, kami punya dewa kami sendiri. Dewa kecil.

Dewa ini kami sembah setiap pagi. Ia bersemayam pada gunung batu di sebelah utara desa. Mungkin bagi orang-orang besar gunung batu itu cuma bukit kecil saja. Tapi itu tak mengapa. Kami akan tetap datang membawa sesembahan setiap pagi kepada dewa kecil kami.

Pernah aku bertanya, mengapa dewa kami cuma kecil saja? Kutanyakan ini kepada Teutua, laki-laki yang kami percaya untuk memimpin upacara persembahan. Kata Teutua, “Tentu saja dewa kita harus kecil. Karena yang diurus orang-orang kerdil maka ia tahu betul kebutuhan-kebutuhan kita. Kalau Dewa-Dewa Besar yang kita sembah, mereka tak akan mengerti persoalan-persoalan kecil kita. Mereka hanya mengerti persoalan-persoalan besar dan hanya mendengar keluhan orang-orang besar.”

Saat kutanya, apakah ia pernah bertemu dengan dewa kecil? Apa ia pernah melihatnya langsung? Karena seperti desas-desus yang beredar, dewa kecil tak benar-benar ada.

Teutua, untuk beberapa saat terdiam. Kemudian dia menjawab dengan suara kecil, “Pernah. Kita semua pernah. Hanya saja, kita sering tidak menyadarinya.”

“Bapak menyadarinya?”

“Tentu!”

“Seperti apa rupanya?”

“Keciiil… sangaaat kecil.”

“Sekecil apa?”

“Sangat keciiil… Nyaris tak terlihat. Itulah mengapa orang tak yakin kalau ia benar-benar ada.”

“Dan Bapak yakin?”

Teutua mengangguk. “Itu sebabnya panen kita selalu baik, kan? Cuaca juga selalu bagus.”

“Tapi belakangan ini cuaca bukannya bertambah buruk? Semakin tak menentu dari hari ke hari, kan? Hujan tak juga turun-turun.”

“Ya, yang itu kurasa dewa kecil juga tahu. Kita harus memberikan sesembahan lebih banyak lagi.”

Sesembahan yang kami berikan setiap pagi adalah barang-barang kecil, yakni butir-butir beras dan segelas teh dalam gelas kecil. Karena hujan tak juga turun, kami mencoba membawa lebih banyak dan lebih besar. Misal butir-butir jagung dan segelas teh dalam gelas besar. Kami juga bersembahyang lebih lama dari biasanya. Namun sampai berhari-hari kemudian, tak juga ada tanda-tanda perubahan cuaca. Kalau terus tak membaik, bisa-bisa kami tak menanam padi musim ini.

Seseorang mulai protes. “Teutua, tidakkah ini terbalik? Bukannya kita seharusnya memberi sesembahan yang lebih kecil dan lebih sedikit lagi?”

Beberapa orang mengangguk setuju. Kami tidak bisa membayangkan butir-butir apa lagi yang lebih besar yang perlu dibawa. Saat kami akhirnya membawa butir-butir kelapa, masih ada lagi kah yang lebih besar yang perlu kami bawa?

Mendengar protes ini, Teutua berpikir sejenak. Lalu berkata, “Mungkin ada benarnya juga… Dewa Besar menginginkan persembahan besar, maka dewa kecil membutuhkan sesembahan kecil. Kalau begitu, kita bawa butiran-butiran yang lebih kecil dari beras.”

 Maka, semua orang pun sibuk berpikir. Butiran apa lagi yang lebih kecil dari beras?

“Gula! Kurasa yang perlu kita bawa butir-butir gula. Dewa kecil akan menyukainya,” teriak seseorang, bernama Kocet.

“Jangan! Gula tidak bisa tumbuh. Dari dulu yang kita bawa butir-butir dari tumbuhan,” protes seseorang lainnya, Becik.

“Bodoh! Tentu saja gula dari tumbuhan. Memangnya gula turun dari langit?” bantah seseorang lainnya.

“Tapi gula, kan tidak bisa tumbuh…”

“Tapi tadi kamu bilang gula bukan dari tumbuhan. Itu bodoh sekali. Bodoh! Bodoh!”

“Aku tidak bilang begitu! Aku bilang, gula tidak bisa tumbuh!” teriak Becik tak kalah keras. Teriakannya dibalas oleh teriakan lain, dan gunung batu tempat kami menyembah dewa kecil pagi itu menjadi riuh oleh pertengkaran soal gula yang tidak bisa tumbuh versus gula yang berasal dari tumbuhan.

Teutua kehilangan kesabarannya. Ia berdiri paling dekat dengan gunung batu dan berseru “Begini saja, setiap orang membawa butir apapun yang dia inginkan. Silahkan bawa butir apa saja yang menurut kalian lebih kecil dari beras.”

“Bolehkah membawa butir yang lebih besar dari beras?” tanya seseorang yang berdiri di bawah pohon kapuk. “Soalnya, aku tidak yakin, yang diinginkan dewa kecil butiran yang lebih kecil lagi,” tambahnya sambil melirik malu-malu ke semua orang.

Teutua tidak langsung menjawab. “Ya! Bisa! Biarkan dewa kecil yang memilih sendiri yang dia inginkan. Dengan banyak sesembahan, kita jadi tahu apa yang dia mau,” jawab Teutua akhirnya.

“Bagaimana caranya kita tahu?” sergah seseorang bernama Pesmir. Ia melipat tangan di dada dan dagunya terangkat menantang Teutua. Sudah lama Pesmir tidak lagi ikut membawa sesembahan. Selama ini dia pula yang telah menyebar desas-desus bahwa dewa kecil tak benar-benar ada. Tak pernah ada!

“Kita akan tahu…” jawab Teutua lirih dan mengakhiri seruannya. Ia beranjak pergi meninggalkan gunung batu, diikuti sebagian besar orang. Beberapa tetap berdiri dan berbisik-bisik dalam nada tak puas.

Esok paginya, untuk pertama kali dalam sejarah hidup manusia kerdil, setiap orang membawa sesembahan yang berbeda-beda. Aku tetap membawa beras, namun memilih butiran-butiran yang lebih kecil dari yang biasanya kubawa. Teh yang kubawa tetap menggunakan gelas kecil yang sebelumnya kupakai, hanya saja airnya cuma setengah dari biasanya. Kocet tetap membawa gula sesuai keyakinannya. Becik membawa butir-butir kacang hijau. Ada juga yang membawa butir-butir kelapa besar. Pesmir satu-satunya yang tak membawa apa-apa. Ia cuma berdiri di pojok melihat kami dalam tatapan merendahkan dan senyum sinis. Upacara persembahan pagi itu berjalan mulus, meski sesembahan kami tak lagi seragam.

Pagi berikutnya, entah siapa yang berteriak mengelilingi rumah-rumah. Sebuah teriakan senang. “Mukjizat! Mukjizat!” teriakan itu terus berulang-ulang beterbangan di perkampungan.

Aku keluar dan terkejut. Di gunung batu, ada sulur yang memanjat tinggi sampai ke langit. Tak jelas sulur tanaman apa. Sepertinya dewa kecil telah memilih salah satu sesembahan kami. Semua orang berlari ke gunung batu untuk melihat lebih dekat lagi. Wajah-wajah sumringah menatap takjub pada tumbuhan yang menjulur naik ke angaksa, menembus awan.

“Itu, itusesembahanku!” teriak Becik, “akulah yang membawa butir kacang hijau.” Ia tak bisa menyembunyikan kegirangannya.

“Kacang hijau katamu? Itu kacang panjang!” bantah seseorang.

Kemudian bantah-bantahan pun dimulai. Untungnya Teutua cepat datang dan melerai mereka.

“Ke mana ujung tanaman ini?” tanya seseorang.

Tak ada jawaban. Semua orang hanya bisa menduga.

“Apa sebaiknya seseorang memanjat saja dan mencari tahu? Kurasa dewa kecil menunggu salah satu dari kita di atas sana,” usul seseorang. Ia mengatakan ini kepada Teutua.

“Baiklah, seseorang harus memanjat.” ujar Teutua, “aku yang akan memilih orangnya,” imbuhnya cepat-cepat sebelum keriuhan kembali terjadi. Orang-orang kini saling menoleh kiri dan kananya dalam tatapan tegang, siapa dari mereka yang akan dipilih Teutua? Tatapan Teutua menyapu semua mata yang berharap-harap cemas. Namun sebelum Teutua menunjuk, salah satu daun pada sulur itu bergetar.

“Lihat!” seseorang berteriak.

Daun yang bergetar itu mengeluarkan suara sayup-sayup. Teutua tergopoh-gopoh ke daun tersebut dan mendekatkan kupingnya ke arah daun. “Aku mendengar suara!” ia memberi tanda agar semua orang diam.

Daun itu terus bergetar dan Teutua mengangguk-angguk seolah memahami sesuatu. Suara yang kami dengar cuma sayup-sayup saja. “dewa kecil,” bisik Teutua. Kegembiraan terpancar dari matanya. “Ya..ya..ya…” dia mengangguk-angguk, “kotak-kotak?” bisiknya kemudian, “suara-suara?” bisiknya lagi, “baik, baik, mengerti…” ia tersenyum. Daun itu pun kemudian berhenti bergetar.

“Baik,” Teutua memulai seruannya. Kami semua menanti dengan hati berdebar. “Tadi itu dewa kecil kita.” Kata-kata ini disambut keriuhan yang meriah dari semua orang. “Dewa kecil bilang, memang sedang terjadi….” Teutua berpikir, “ aaa..anomali cuaca.., ya, anomali cuaca.”

“Apa itu?”

“Artinya, segala sesuatunya sedang sulit.” Jawab Teutua mantap. Kelesuan seketika menyelimuti setiap wajah. “Tapi masih ada harapan,” seru Teutua dalam suara yang lebih lantang. “Untuk menurunkan hujan, dewa kecil membutuhkan suara yang lebih besar. Suara yang lebih besar akan membantunya melawan permainan Dewa-Dewa Besar. Untuk itu… dia membutuhkan suara-suara kita.”

Tak seorangpun mengerti apa yang dimaksud oleh Teutua. Semua orang menatap Teutua dalam keluguan batu-batu.

“Apakah itu berarti kita harus berteriak-teriak ke arah langit?” tanya seseorang akhirnya.

“Tidak, bukan begitu,” Teutua menggeleng.

“Bukan yang seperti itu yang diinginkan dewa kecil kita. Kita harus menyerahkan suara kita lewat kotak-kotak.”

Semua orang tereperangah. “Tapi bagaimana?”

Teutua menggaruk dagunya. “Dewa kecil, ingin kita memberikan suara kita dalam kotak-kotak kecil dan menyerahkannya di sini besok pagi.”

“Begitu saja?”

“Ya! Begitu saja,”  jawab Teutua. Ia turun dari tempatnya berdiri dan beranjak pergi meninggalkan gunung batu diikuti semua orang. Aku sempat melihat ke arah Pesmir. Dia masih terlihat tak senang seperti biasanya. Ia meludah dengan kesal, kemudian pergi.

Seharian kami sibuk membuat kotak-kotak kecil. Sebagian orang yang terampil menghiasi kotak-kotak tersebut. Ada yang melukisinya, ada yang mengukir, dan ada juga yang memberi hiasan anyaman. Namun kata Teutua, yang terpenting adalah isinya. Jangan sampai lupa memberikan suara kami dan menyerahkannya besok pagi.
Sesuai permintaan dewa kecil, kami datang berbondong-bondong membawa kotak-kotak yang sudah berisi suara kami. Begitu kotak-kotak itu kami susun di gunung batu, disertai doa-doa, secara ajaib sulur yang menjulur ke langit itu menyusut. Kami menganggap ini sebagai pertanda bahwa suara-suara kami telah diterima. Hujan tentunya akan segera turun.

Kami menunggu seminggu, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Awan-awan kecil yang biasanya menggumpal di atas daerah kami yang terpencil, satu per satu surut. Gumpalan awan tempat sulur itu dahulu berujung adalah awan yang pertama menghilang. Disusul gumpalan awan-awan lainnya, sampai langit menjadi biru bersih tak menyisakan satu awan pun. Udara semakin panas dan rumput-rumput mengering.

Kami tak bisa mengeluh karena suara-suara kami telah kami serahkan pada dewa kecil. Hari-hari yang panas dan melelahkan kami jalani dalam keheningan. Apakah dewa kecil sedang menguji kami? Semoga saja dia sedang menguji kami.
Sementara waktu berjalan sangat lambat, pohon-pohon mulai meranggas. Kami mencari makanan dengan berburu dan memetik buah-buah dari semak liar. Namun buah-buah liar pun semakin hari semakin jarang dan hewan buruan semakin hari semakin kurus. Kami sendiri juga semakin kurus. Setelah hewan-hewan kurus tak ada lagi untuk diburu, akhirnya kami memakan tikus-tikus. Ketika tikus-tikus habis, kami mulai memakan serangga. Hujan tak juga menunjukkan tanda-tanda.

Satu-satunya yang tak kehilangan suara adalah Pesmir. Dia menjadi orang yang paling bahagia melihat kami semakin kurus. Meski ia sendiri juga semakin kurus, namun setidaknya, dia tak kehilangan suara seperti kami. Ia masih bisa tertawa. Sementara kami, menangis pun tak mampu.

“Untung saja aku tak sebodoh kalian!” Pesmir tertawa senang. Tawanya satu-satunya yang bergema di daerah terpencil kami, dan karenanya terdengar sangat memuakkan. “Ke mana dewa kecil kalian? Ha? Ke mana? Untung saja suaraku tak kuberikan. Jadi aku tak perlu menanggung beban kebodohan,” ia tertawa lagi dan lagi dan lagi.

Tawanya menggema menjemukan. Ia bahkan tak mau repot-repot ikut berburu, namun ikut memakan hasil buruan. Dengan alasan, kekeringan ini adalah buah kebodohan kami. Ia terus mengoceh, “Dewa kecil tidak pernah ada! Hanya Dewa-Dewa Besar yang ada. Kita semua mahluk tak berguna! Mahluk kerdil! Tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Tidak juga dengan berdoa kepada Dewa-Dewa Besar. Mereka tak akan mendengar suara kita. Tidak akan! Tapi setidaknya, aku masih bisa tertawa…” ia tertawa mengejek sambil memanjat gunung batu. Menginjak-injak altar tempat kotak-kotak suara kami sekena hati.

“Ke mana pula si Teutua? Di saat seperti ini, dia malah pergi,” ujarnya. Pesmir akhirnya mengatakan kenyataan pahit yang tidak ingin kami dengar. “Ini semua permainan si Teutua, tau! Kalian semua tolol! Tolol!”  ia kembali terbahak. Lebih keras dan lebih memuakkan.

Seseorang bangkit dan sebuah tombak melesat. Tombak itu menembus tenggorokan Pesmir yang sedang terbahak. Pesmir terhuyung-huyung dengan lubang di lehernya. Darah membanjiri tubuh kurusnya. Semua orang ingin menjerit ngeri, tapi tak bisa. Tubuhnya kemudian tergolek lemah di gunung batu. Darahnya bercipratan menodai tempat sesembahan. Membasahi kotak-kotak suara kami. Membanjiri tempat suci kami. Kengerian mencekam semua orang. Ngeri yang hening. Ngeri yang sunyi.

Tiba-tiba guntur menyambar. Pecah membelah kesenyapan. Semua orang terkejut dan tengadah ke langit. Awan hitam berarak. Gelap pekat. Dan hujan pun mulai turun….


Jogjakarta, Januari 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Rumah Mati Di Siberia