One Step Forward


Waktu itu saya lagi bosan-bosannya menunggu cerpen yang saya kirim ke media massa dimuat. Saya lagi mirip-miripnya dengan si "aku" dalam novel Lapar, Knut Hamsun; menolak pekerjaan lain sebelum mendapat penghasilan dari menulis. Namun rasa lapar saya yang menang. Terlebih lagi saya tidak sebebas si 'aku'. Saya masih terikat sebagai mahasiswa semester akhir di ISI dan saya pikir waktu itu, mungkin bekerja sampingan di sebuah restoran akan membuat tulisan saya kelak lebih menarik. Apalagi Via-Via restauran kerap menjadi tempat bagi seniman-seniman lokal menguji karya mereka. Pada dinding cafe, sepanjang tahun, terpajang karya lukis atau fotografi. Sejumlah event kesenian di Yogya juga bekerja sama dengan Via-Via.

Anyway, itu tahun 2015. Setelah itu ketertarikan saya ke seni bercerita juga mulai saya kolaborasikan dengan tugas akhir. Bahkan sampai ada rencana untuk melaunching buku saya di sini. Kebetulan, chef yang memegang cooking class di Via-Via masih keluarga istri pemilik penerbit indie yang juga kakak kelas saya sewaktu SMA yang berteman dengan sepupu saya dan pernah menjadi murid ibu saya sewaktu SD (dunia memang sempit).

Namun saya baru meluluskan keinginan untuk berpameran itu tahun ini. Berhubung tak banyak waktu yang saya punya, saya mengikutkan karya-karya ilustrasi yang pernah saya posting di Instagram dan di blog.

Pil Penua, Acrylic on Paper, A4, 2016

Sedikit mengenai  karya ini, cerpen Pil Penua diawali oleh permainan bahasa. Saya kerap membaca iklan atau papan reklame yang tersebar di mana-mana mengenai pil anti-aging dan berbagai iklan treatment yang membuat seseorang merasa tumbuh menjadi tua sebagai suatu kenyataan yang menakutkan. Begitu menakutkannya, tak seorang pun pernah memakai kata ‘penua’ dalam kamus. Meskipun secara tata bahasa hal itu dapat dibenarkan, namun karena tak seorang pun ingin beranjak tua dalam waktu cepat, kata ‘penua’ nyaris tak pernah terpakai. Atau, kata itu seolah tidak ada. Dari permainan bahasa inilah ide saya untuk menulis sebuah cerita pendek lahir. Kemudian saya satukan dengan cerita yang lebih lama tentang sepasang lalat yang menetas, mencari pasangan hidup, kemudian bercinta di pohon jambu.

Kalian juga bisa menengok karya lainnya sampai 6 Mei 2019. Ada beberapa menu yang saya rekomendasikan kalau kalian mampir ke Via-Via, coba: Via-Via Salad (dressingnya unik), Carbonara (the best in town), Ikan Asam Manis (Hanya di hari tertentu), dan Cold Lemon Cream untuk desert (ga selalu ada). Untuk minum, coba Vitamin Rush.




By the way, kalau ingin melewati malam yang lebih asik, setiap Jumat malam di Via-Via ada live musik Jazz. Untuk mendapatkan katalog atau cari tahu lebih banyak tentang pameran ini, bisa hubungi Pandrong atau mb Karina

Komentar

  1. Waah selamat yaa untuk pamerannyaaa..coba jogja deket surabaya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Kalau ada waktu ke Jogja mampirlah :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton

Menulis bebas (Free Association Writing)