Rindu Lindu


Judul: Rindu Lindu: Kumpulan Cerita Pendek
Penulis: Lalu Abdul Fatah
Diterbitkan Secara Indie
Cetakan Pertama, Juni 2019

Saya kenal penulisnya karena satu sekolah saat SMP dan SMA. Saat itu Fatah juga sudah aktif menulis, dan seingat saya waktu SMA, cerita pendeknya pernah menghiasi sebuah majalah dakwah (saya lupa-lupa ingat, itu majalah beredar secara nasional atau daerah). Sekitar tiga atau empat tahun lalu, saat pulang kampung, saya sempat membaca ulasan travelingnya di sebuah  majalah langganan kakak saya. Saya agak-agak ketinggalan berita kalau dia sudah menerbitkan 3 buku solo dan 15 antologi. Saya bahkan baru tahu kalau dia masih aktif di dunia blog: Setapak Aksara.

Well, buku terbarunya yang berjudul Rindu Lindu ini mengambil momen kejadian gempa di Lombok kemarin. Cerpen yang berjudul sama dengan buku kumcer ini menjadi cerpen pembuka dan cukup singkat. Tentang seorang bayi yang ditemukan di antara akar pohon asam yang tumbang. Di tengah kegusaran orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri, tangis bayi ini pecah dan menghisap perhatian. Saya suka tiga paragraf pembukanya. Terasa lebih matang dari bagian cerita yang lain.


Cerita favorit saya adalah Baju Babi. Tentang perubahan gaya hidup sebuah keluarga yang memilih 'hijrah'. Perubahan busana dan bahasa tutur yang membuat sebuah kaos bergambar babi tercampakkan. Cukup menarik karena yang bercerita kepada kita adalah sebuah kaos. (Saya jadi teringat dulu pernah dilarang membaca majalah Bobo, karena bobo dalam bahasa sasak berarti anjing. Padahal mereka kelinci). Kemudian cerpen penutupnya; Museum Emosi, cukup unik dan saya mungkin akan membacanya berkali-kali (saya agak tergoda untuk menulisnya kembali dalam versi yang lebih panjang).

Best Quote


Kereta waktu begitu cepat berlalu membawa gerbong-gerbong peristiwa yang tak mungkin dihentikan. Masa depan justru telah siap menanti dengan gerbong-gerbong imajiner baru.
(Narator dalam Museum Emosi; hal 95)

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Rumah Mati Di Siberia