Tatapan Yang Lain


I

Perempuan itu menatap saya dengan cara yang berbeda. Ia menatap saya seperti ibu saya menatap saya. Bahkan ayah dan kakak saya pun tak akan sanggup menatap saya seperti itu. Apalagi oleh ibu-ibu tiri saya. Karena ibu saya sudah lama sekali meninggal, maka sudah lama sekali saya tidak mendapat tatapan dengan cara itu.

Ah, mungkinkah perempuan itu memang diciptakan oleh Tuhan untuk saya? Seperti yang diyakini orang-orang kalau perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, mungkinkah perempuan itu dahulu diciptakan dari tulang rusuk saya?

Sebenarnya saya takut meyakini kalau perempuan memang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Selalu saya hati-hati dengan apa yang saya yakini. Meskipun saya diharuskan percaya, tapi seringkali kepercayaan itu hanya mengecewakan orang seperti saya ini. Lihat saja bagaimana ayah saya menikahi banyak perempuan. Tak jelas jumlahnya sudah selusin ataukah lebih. Mestinya tulang rusuk ayah saya sudah tidak ada lagi yang sisa jika digunakan untuk menciptakan perempuan-perempuan yang sudah dia nikahi. Saya takut membayangkan kalau ayah saya telah merebut tulang-tulang rusuk milik laki-laki lain. Jika seandainya itu yang benar-benar terjadi, maka tulang rusuk saya bisa direbut oleh laki-laki lain dengan mudahnya.

Tapi, cara perempuan itu menatap saya tadi pagi membuat saya mempertimbangkan lagi kepercayaan yang sering muncul di lagu-lagu itu. Mungkin memang benar kalau Tuhan menyiapkan satu perempuan hanya untuk saya. Diciptakan dari tulang rusuk saya. Dan hanya dia seorang, manusia yang sanggup menatap saya seperti ibu saya menatap saya.

Seketika hari saya seperti dihujani daun waru. Sepanjang hari ini saya tidak bisa berhenti bernyanyi. Meskipun Sabar, teman jaga saya di kios pulsa, mulai hilang kesabarannya mendengar saya bernyanyi terus. Suaramu, katanya, seperti suara seng yang digaruki amplas. Tapi saya terus saja bernyanyi.

Saya melingkari nomor perempuan itu dengan polpen bertinta merah. Saya berharap, dalam waktu dekat, dia akan datang lagi untuk membeli pulsa. Saya lihat nominalnya, dia membeli cuma sepuluh ribu saja. Biasanya, orang yang membeli pulsa dalam jumlah sedikit justru lebih jarang membeli pulsa. Apalagi saya lihat tadi, jenis telepon genggam yang dia punya  adalah jenis lama yang hanya bisa digunakan menelpon dan SMS saja. Saya menduga setidaknya dia akan datang lagi sekitar satu bulan lagi. Tapi, bagaimana kalau seandainya dia membeli pulsa di kios lain?

Memikirkan hal ini saja membuat nyanyian saya terhenti. Saya simpan nomornya yang sudah saya lingkari merah itu. Saya tidak tahu untuk apa. Saya tidak mungkin mengirim SMS dan mengajak perempuan itu makan malam. Yang seperti itu hanya bisa dilakukan oleh laki-laki seperti ayah saya atau kakak saya.

Saya baca betul nomornya. Saya eja setiap angkanya. Saya tidak tahu untuk apa. Angka-angka itu bukanlah ayat suci. Namun membacanya saja membuat hati saya berdesir. Wajah perempuan itu timbul tenggelam dalam benak saya. Tatapannya hadir dan pergi. Saya harap, saya akan berjumpa perempuan itu lagi dalam waktu dekat. Tanpa sadar saya bernyanyi lagi. Nyanyian meratap yang membuat Sabar menutup kupingnya dengan headphone.

II

Kali ke dua saya melihat perempuan itu saat ia lewat di depan kios kami. Lebih tepatnya, kios kepunyaan kakak saya. Saya hanya bekerja pada kakak saya, karena dia satu-satunya orang yang mau memperkerjakan orang seperti saya. Saya lihat perempuan itu berjalan sangat pelan. Tidak seperti ibu saya yang bergerak gesit, rupanya perempuan ini bergerak serba lamban. Seolah setiap langkah ia hitung terlebih dulu. Ia berjalan sambil menunduk. Posturnya agak bungkuk. Ia lewat begitu saja. Tanpa menoleh atau memberi saya tatapan. Ia pun menghilang pada kelokan di ujung jalan.

Kali ke tiga, ke empat, seterusnya, hingga ke empat belas, saya melihat perempuan itu melintas di depan kios ini setiap pagi dan sore. Berjalan perlahan. Selalu dengan cara yang sama. Membungkuk. Sesekali saja ia mengangkat pandangannya seolah memastikan tak ada motor terparkir di trotoar.

Saya pun jadi punya kebiasaan baru, yakni menunggu perempuan itu melintas. Jika biasanya saya selalu asik bermain game di handphone dan membiarkan Sabar yang melayani pelanggan (ini pesan kakak saya), kini, antara pukul delapan sampai sembilan pagi saya akan duduk diam saja dan menantikannya melintas. Antara pukul satu sampai dua siang, saya bawa kursi plastik ke pinggir trotoar dan memerhatikan setiap orang yang lewat.
Sebagian dari orang-orang yang lewat itu membalas tatapan saya. Kurang dari sedetik mereka terpaku, lalu kemudian cepat-cepat membuang pandangan ke arah lain. Pura-pura melihat tali sepatu mereka, atau tiba-tiba mengalihkan pandangan ke jalan raya. Begitulah orang-orang selama ini menatap saya.

III

Kali ke lima belas saya sudah tidak tahan lagi. Saya ingin kali ini perempuan itu menatap saya lagi. Bukan hanya berjalan menunduk dan menghamburkan tatapannya dengan sia-sia kepada trotoar. Padahal, sayalah seorang yang setiap hari menantikan tatapan dari dirinya.
Tanpa sadar saya terus saja menyanyikan lagu Pandangan Pertama dari A rafiq sambil melihat jauh ke ujung jalan. Sabar, yang sama sekali tidak bodoh, langsung tahu kalau saya menantikan seseorang lewat. Sambil menatap layar telepon genggamnya, Sabar mengatakan kalau seandainya perempuan itu nanti lewat, sebaiknya saya membuntutinya. Kalau dia rutin lewat di depan sini, itu berarti ia tinggal tak jauh dari sini. Atau mungkin, tempat kerjanya pun tak jauh dari sini.

Sudah saya katakan, Sabar tidak bodoh.

Ketika perempuan itu akhirnya lewat, saya tidak tahu apakah saya masih bernyanyi atau tidak. Saya lihat ia berjalan pelan seperti biasa. Menunduk. Baru ketika ia terlihat hendak berbelok di ujung jalan, saya mendengar Sabar mendesak saya untuk bangun dan membuntutinya.

Membuntuti perempuan tidaklah termasuk dalam kebiasaan orang seperti saya ini. Tapi akhirnya saya bangkit juga. Perempuan itulah yang sanggup menatap saya seperti ibu saya. Mungkin dialah tulang rusuk saya yang hilang. Saya menertawakan pikiran ini, tapi tetap saja saya bangkit dan menyusul perempuan itu. Tidaklah sulit, karena ia berjalan sangat pelan.

Saya lihat ia masuk ke sebuah gedung tua yang cukup besar. Sepi. Halamannya ditumbuhi ilalang dan semak liar. Perempuan itu meraba-raba ke dalam tasnya kemudian mengeluarkan sebuah kunci. Saya baca di plang tua dengan cat yang sudah terkelupas, ternyata gedung ini adalah perpustakaan sebuah yayasan.

Ketika saya masuk, saya lihat ia tengah sibuk menarik semua tirai. Ia bergerak perlahan ke seberang ruangan dan menyalakan kipas angin. Saat ia akhirnya menyadari kehadiran saya, ia pun berkata, “Selamat datang!”

Sebuah suara yang membuat semua kembang di hati saya langsung bermekaran. Tak pernah ada perempuan yang berbicara kepada saya dalam suara sebening dan seriang itu. Dan meskipun masih berjalan dengan pelan, ia menghampiri saya dengan gerak tubuh yang riang. Keriangan yang membuatnya ceroboh dan menabrak salah satu meja. Ia mengikik malu. Dengan muka kemerahan ia mengeluarkan sebuah buku besar dan meminta saya mencatat nama saya di situ. Namun terlebih dahulu ia mencatat tanggal, membuat kolom-kolom dengan penggaris, baru kemudian menyodorkan buku besar itu kepada saya.

Saya lihat tak ada nama siapa-siapa di situ. Saya catat nama saya. Ada satu kolom yang membingungkan saya. Tanpa ditanya, ia langsung berkata, “silahkan diisi sesuai tujuan Bapak datang ke sini.”

Akhirnya saya isi kolom itu dengan tulisan, melihat. Ia tersenyum kemudian mempersilahkan saya melihat-lihat. Saya memasuki ruangan itu tanpa minat. Saya tak bertujuan melihat-lihat buku. Buku-buku itu tak ada yang menarik minat saya. Semuanya terlihat tua. Terlihat coklat dan berdebu. Tiap kali saya membuka sebuah buku, saya langsung terbatuk atau bersin-bersin. Baunya seperti kayu tua. Kadang menyengat seperti bau bensin. Kapur barus bertebaran di rak-rak. Beberapa buku beraroma seperti mayat. Saya tidak habis pikir kenapa dia mau menunggui tempat seperti ini.

Saya lihat ia di tempat duduknya tengah sibuk membaca. Mungkin karena tersadar dirinya terus dilihati, ia akhirnya mengangkat pandangannya. Menatap saya dengan tatapan ibu saya dan dengan bibirnya yang mengembangkan senyum, ia berkata, “Sudah ketemu buku yang dicari?”
Aih, betapa suaranya yang bening berenang di dalam ruangan ini. Bisa saya rasakan rak-rak buku dan dinding-dinding ikut bergetar mendengar suaranya. Saya mengangguk dan sembarang mengambil salah satu buku. Saya beranjak ke meja dan hendak pura-pura membaca. Namun begitu buku itu saya buka, saya langsung bersin-bersin.

IV

Sebenarnya saya merasa tak enak meninggalkan Sabar menjaga kios sendirian. Namun tiap hari ia terus mendesak saya untuk mendatangi perempuan itu. Seolah-olah, ia lebih suka menjaga kios tanpa adanya saya. Tak lama setelah perempuan itu melintas (kali ini dia kadang menoleh dan tersenyum), Sabar pasti mendorong-dorong saya untuk segera membuntutinya. Saya sering mengulur-ngulur waktu. Saya tidak yakin apakah dia sebenarnya senang ataukah terganggu jika saya datang. Barangkali saja dia cuma ingin bersikap ramah. Tapi saya teringat kembali cara dia menatap saya dan saya pun bangun dari tempat duduk saya. Menyusulnya. Masuk ke gedung tua sepi yang halamannya ditumbuhi ilalang dan semak liar. Tiap kali saya masuk, ia mengucapkan selamat datang dengan kebeningan yang sama. Tiada saya menangkap nada pura-pura dari keriangannya itu.

Saya tak tahu bagaimana mengajak perempuan itu berbicara. Sepertinya perpustakaan bukan tempat untuk berbicara. Suatu kali pernah saya lihat ada dua pengunjung lain yang datang. Mereka masing-masing sibuk dengan buku yang mereka baca. Padahal saya tidak suka membaca. Ia sendiri juga selalu tenggelam dalam bacaannya. Akhirnya saya memilih buku-buku yang banyak gambarnya. Buku-buku ensiklopedi tua yang besar-besar dan berat—yang sialnya memiliki bau paling menyengat.

V

Hari itu, saya memilih sebuah buku kecil berwarna kuning yang bergambar perempuan Jepang di sampulnya. Saat saya buka-buka lagi buku itu, tak ada saya dapati gambar-gambar di dalamnya. Semuanya tulisan. Saya hendak mengembalikannya ke rak, tapi tahu-tahu dia sudah berdiri di depan meja saya.

“Kamu suka Kawabata, ya?” tanyanya. Nadanya begitu akrab dan kali ini ia tidak lagi memanggil saya ‘Bapak’. Saya mengangguk saja.

“Ya, bukunya bagus.” Jawab saya. Saya periksa sampulnya, ternyata penulisnya bernama Kawabata.

“Sebenarnya bukunya sudah diterjemahkan lagi dan diterbitkan lagi. Yang itu terjemahan Ajip Rosidi,” katanya.

“Buku-buku di sini, sudah tua semua, ya?” kata saya gugup.

Ia seperti tidak mendengar perkataan dari saya. Malah, ia menarik kursi di depan saya, kemudian duduk dan sesekali menatap saya. “Tapi aku malah lebih suka yang terjemahan lama itu,” ditunjuknya buku di depan saya. “Aku lebih suka buku-buku lama. Aku suka bahasanya. Mungkin karena baunya juga,” dihirupnya udara ruangan yang berbau kayu tua dan kapur barus, “atau, aku tidak tahu kenapa… Pokoknya, sukaaa aja.”

Aneh. Saya bolak-balik buku itu. Di sampul belakangnya ada foto penulisnya. Seorang laki-laki tua, kurus, tertawa.

“Dia mati bunuh diri…” bisik perempuan itu. Suaranya terdengar sedih sekaligus menakutkan.

“Boleh saya pinjam buku ini?”

Masih dengan suara yang terdengar sedih dia berkata, “Sayang sekali tidak boleh.”
Saya bingung. Di halaman paling belakang ada kartu buku dan lembar kecoklatan yang menandakan buku itu pernah dipinjam. Terakhir kali dipinjam sekitar sepuluh tahun lalu.

“Perpustakaan ini mau ditutup,” terangnya. Matanya menelusuri rak-rak yang berisi buku tua. “Yayasan sudah tidak sanggup mendanai. Tapi buku-bukunya akan dipindahkan ke perpus kampus. Kampus negeri sih. Masih di kota ini… Yah, setidaknya.. yang penting, tidak dijual.”
Cara bicaranya agak membingungkan saya. Kata-katanya meluncur cepat, melompat-lompat seperti tupai. Padahal, ia sendiri bergerak dalam kelambanan kura-kura.

Sebenarnya saya ingin menanyakan bagaimana dengan dirinya kalau perpustakaan ini nanti ditutup. Saya tidak peduli nasib buku-buku yang membuat saya bersin-bersin itu. Saya hanya mengkhawatirkan kalau saya tak bisa lagi melihatnya lewat di depan kios setiap pagi.
“Tapi untuk kamu, buku ini boleh saja dipinjam. Kamu sudah sering ke sini, kan?” ia tiba-tiba bersemangat. “Tapi jangan bilang siapa-siapa. Kalau sampai ketahuan, bisa berbahaya,” bisiknya,  “Oke?”

“Oke!”

Tentu saya tidak akan mencelakakan dirinya. Bila perlu, Sabar pun tidak akan tahu kalau saya membawa buku dari perpustakaan yang mau bangkrut ini. Sekalipun Sabar juga belum tentu tahu kalau di sekitar sini ada sebuah perpustakaan.

“Aku kasih kamu waktu satu minggu. Minggu depan bukunya harus kamu kembalikan. Janji?”

“Saya janji!” jawab saya gembira.

Tak pernah sebelumnya saya membuat janji dengan perempuan.

VI

Lembar-lembar pertama dalam buku yang berjudul Daerah Salju itu cukup menarik hati saya. Meskipun membingungkan saya, tapi saya merasa akrab dengan cara si laki-laki diam-diam mengagumi wajah penumpang lain, seorang perempuan muda, melalui bayangannya yang terpantul di jendela kereta. Saya juga sering melakukan hal itu jika saya naik kereta. Saya bisa menatap wajah orang lain tanpa mengganggu mereka dengan wajah saya sendiri.

Kadang, kalau Sabar terlalu sibuk dan saya yang harus melayani pembeli, saya melayani dengan berbicara pada bayangan mereka yang terpantul di kaca etalase. Jika saya mendongak, pastilah mereka langsung membuang muka.

Tak ada orang yang sanggup menatap saya cukup lama. Cuma ibu saya saja dan perempuan itu yang sanggup menatap saya. Perempuan itu, kenapa saya belum tahu juga namanya? Astaga, kenapa saya tidak pernah menanyakan namanya? Dia tentu sudah tahu nama saya karena saya selalu menuliskannya di buku pengunjung setiap saya datang. Padahal saya sudah membuat janji dengannya, dan saya belum juga tahu namanya.

Saya paksakan diri saya membaca buku itu sampai habis agar bisa saya kembalikan lebih cepat. Beberapa halaman saya lompati, karena sesungguhnya saya tidak suka cerita si laki-laki yang bermain dengan perempuan lain, padahal dirinya sudah beristri. Jika saya sudah punya istri seperti perempuan penjaga perpustakaan bangkrut itu, tentu saya tak akan bermain dengan perempuan lain. Saya akan habiskan waktu seharian di rumah, di bawah tatapannya itu.

VII

Ternyata namanya Aryati. Mengingatkan saya pada lagu lawas kesukaan ayah saya. Aryati, dikau mawar asuhan rembulan. Aryati, dikau gemilang seni pujaan. Dia langsung tertawa mendengar saya spontan bernyanyi. Sebuah tawa yang lepas. Saya tahu suara saya tak bagus. Tapi Aryati nampak senang mendengarnya dan tidak menyuruh saya berhenti.

Ia meminta bantuan saya untuk memasukkan buku-buku tua ke dalam kardus. Sebenarnya ada orang dari perpustakaan kampus yang akan melakukannya. Tapi karena orang itu tak juga datang, Aryati akhirnya melakukannya sendiri. “Dari pada menganggur,” katanya. Saya sendiri juga lebih suka menghabiskan waktu dengan membantunya begini. Saya merasa lebih berguna. Meskipun saya kadang bingung bagaimana menanggapi kata-katanya yang melompat-lompat seperti tupai. Ia banyak mengeluh soal ibunya sementara kami menyusun buku-buku tua itu di dalam kardus. Saya tidak tahu apakah dia menggumamkannya untuk dirinya sendiri, ataukah kepada saya.

“Sayang sekali perpus ini harus tutup. Ibuku pasti senang kalau tahu aku tidak punya pekerjaan lagi. Dia jadi punya alasan untuk memaksaku lekas kawin.
Padahal, aku suka sekali bau buku-buku ini.” Diambilnya salah satu buku kemudian ia menghirup aromanya dalam-dalam.

 “Kenapa tidak dibawa saja pulang?” tanya saya.

“Buku-buku ini? Ini semua kan buku yayasan…” jelasnya. Namun tangannya yang meraih satu jilid ensiklopedia tua terhenti di udara. Matanya mengerjap-ngerjap mempertimbangkan usul saya. “Lagipula kalau aku bawa buku ini, ibuku tidak akan suka.” Ia masukkan buku itu perlahan. “Kami tidak pernah akur. Kadang aku ingin bunuh diri di depan matanya untuk menghukumnya.” Ia akhiri kata-katanya ini dengan senyum suram.

Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Apa yang dikatakannya tentang bunuh diri membuat saya takut. Mungkin karena dia terlalu menyukai Kawabata, makanya ia menjadi murung.

“Sebenarnya saya tidak suka Kawabata itu,” kata saya.

Kepalanya yang dari tadi sibuk dengan buku-buku tua terangkat. Ditatapnya wajah saya lama-lama, sampai-sampai saya takut ia akan menyadari sesuatu di wajah saya dan membuatnya menjerit ketakutan.
Saya alihkan wajah saya dan cepat-cepat mengambil kardus berikutnya, tapi dia langsung menghentikan saya. “Sudah saja dulu. Sisanya biar orang kampus saja yang mengurus.” Ia bangkit, kemudian menabrak meja. Sambil mengelus sikunya ia duduk dan kembali mengeluh soal ibunya. “Terakhir kali kami bertengkar, kaca mataku diinjaknya sampai remuk. Ia menantangku untuk membeli kaca mata dengan uangku sendiri. Aku… ” Ia mulai menangis, tapi kemudian sambil ketawa dia menambahkan, “ada juga bagusnya perpus ini tutup. Gajiku yang empat bulan ini akan dibayar.” Ia melanjutkan tawanya tapi sama sekali tidak kedengaran bahagia.

Setidaknya dia tidak lagi menangis.

“Kalau gajiku sudah diberikan, tentu aku akan beli kacamata secepatnya. Aku sudah capek bergerak pelan terus,” keluhnya. “Kamu pasti sudah lihat sepelan apa aku harus berjalan. Aku takut kalau sampai jatuh ke bolongan trotoar.”

Rupanya itu yang menyebabkannya bergerak pelan dan berjalan sambil membungkuk. Tapi saya jadi takut sekarang. Jangan-jangan ia tak melihat apa yang dilihat orang lain di wajah saya karena tidak memakai kaca mata? Separah apa kerusakan matanya? Bolehkah saya berdoa agar gajinya tidak usah dibayarkan agar ia tak jadi membeli kaca mata?

“Kalau gajiku nanti sudah dibayarkan, aku bisa neraktir kamu,” serunya girang.

Bertambah rasa tak nyaman saya.

“Saya kembali ke kios dulu. Kasihan Sabar saya tinggal terus.” Saya ingin cepat-cepat meninggalkan perpustakaan itu. Perut saya terasa ada yang mencengkeram dari dalam. Saya merasa ingin muntah. Kini sayalah yang berjalan dengan terbungkuk-bungkuk. Dua kali saya menabrak meja, meskipun tak ada yang salah dengan mata saya.

VIII

Dari kejauhan saya lihat dia berjalan. Tubuhnya masih agak bungkuk. Dari cepat  berjalannya, saya tahu ia pasti sudah memakai kaca mata. Cepat-cepat saya masuk. Saya tinggalkan Sabar sendirian menjaga kios. Kamar lain di belakang kios cuma ruang kecil dengan karpet sobek tempat Sabar tidur kalau malam hari. Saya ingin duduk saja di sini sampai sore sambil bermain game di handphone. Sialnya handphone itu tertinggal di luar. Pasti masih di dalam etalase, di belakang kartu-kartu perdana yang berjejer. Kalau saya keluar sekarang, tentu dia sudah dekat sekali. Akhirnya saya berbaring dan mencoba bernyanyi untuk menghibur hati saya. Tapi tak ada juga lagu yang keluar dari mulut saya. Saat itulah saya mendengar suaranya yang bening menanyakan saya kepada Sabar.

Saya dengar derit kursi yang diduduki Sabar. Saya langsung bangun. Namun tubuh saya membawa saya ke kamar mandi. Di kamar mandi saya basuh wajah saya berkali-kali. Saya tidak tahu untuk apa. Tahu-tahu Sabar sudah berdiri di depan pintu. Memberi tahu kalau saya ada yang mencari. Katanya, ada perempuan yang sedang menunggu saya di luar. Dia katakan ini dengan tatapan yang ia arahkan ke lantai. Seekor kecoak berlari bersembunyi ke belakang pintu kamar mandi.

Saat saya keluar, saya lihat Aryati duduk di depan etalase seperti pelanggan yang biasanya hendak membeli pulsa.

Dilihatnya saya dengan tatapan orang lain. Ia terpaku sejenak, matanya menelusuri wajah saya, namun segera ia melempar pandangannya ke trotoar, ke jari-jari tangannya, kemudian ke deretan kartu perdana di dalam etalase. “Apa kabar?” tanyanya. Ada yang bergolak di dasar kerongkongannya yang membuat suara beningnya kini kedengaran keruh.
Kaca mata mungil bertengger di hidungnya. Di balik kaca matanya itu, bola matanya terlihat lebih besar. Ia terlihat lebih manis dengan kaca mata itu. “Kamu sudah terima gaji,” gumam saya.

Mendengarnya Aryati malah tertawa. Saya tak tahu itu tawa senang atau bukan. Namun di sela tawanya dia berkata, “ya, aku sudah terima gaji. Aku mau neraktir kamu.” Suaranya tak lagi keruh. Namun tatapannya masih ia arahkan pada bayangannya sendiri, yang terpantul di etalase.


Jogjakarta
Maret 2014
<>

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Rumah Mati Di Siberia