Melankoli Bibi Buni


Gagasan ini muncul sebelum Bibi Buni genap 20 tahun. Ia sedang duduk di sebuah terminal, di sebuah kota asing, menunggu sebuah bis yang akan mengantarnya pulang. Sayup-sayup sebuah lagu terdengar dari sebuah radio di satu sudut terminal. Tanpa aba-aba lagu itu menyeret Bibi Buni dalam kenangan. Lagu itu adalah lagu yang sering disenandungkan mama Bibi Buni di kala hujan.

Sebagai seorang yang suka mengenang dan tenggelam dalam melankoli, penemuan ini membuat Bibi Buni gembira. Bukan diary, juga bukan kamera, ia hanya butuh lagu-lagu untuk menyimpan kenangannya.

Siapa yang bisa menyangkal nikmatnya mengenang? Bahkan hari-hari biasa di masa lalu akan kita kenang dalam kenikmatan yang tak biasa. Bukankah orang sering berlama-lama mengamati album foto? Jika foto membekukan sebuah peristiwa lewat mata kamera, maka musik akan menuntun kenangan lewat mata hati. Lewat kesan-kesan. Lewat impresi yang mengalir beriring musik yang kita dengar.

Bibi Buni telah menemukan harta karunnya. Sumber kebahagiaannya. Ia menyusun sebuah proyek yang akan membuat dirinya bahagia. Ia menamakan proyek ini, ‘Proyek Melankoli’.

Sehari setelah ulang tahunnya yang ke 20, Bibi Buni memulai proyeknya. Apa yang dibutuhkan sederhana saja; sebuah mp3 player, sebuah komputer dengan cd rom, serta 12 keping cd setiap tahun. Yang perlu dilakukan hanyalah mendengarkan satu lagu setiap hari sebelum ia beranjak tidur. Sementara mendengar lagu ini, ia akan mengurai pengalamannya seharian penuh untuk diabadikan lewat lagu yang ia dengar.

Setiap pergantian bulan, lagu-lagu tersebut akan di-burning dalam satu cd yang diberi judul sesuai bulan. Sehingga pada pergantian tahun, ia telah menyimpan 12 keping cd yang berisi 28-31 lagu per kepingnya.

Saat Bibi Buni 50 tahun, ia telah mem-burning lebih banyak lagu dari separuh usianya. Jika ia mendengarkan lagu tersebut satu per satu setiap hari, maka ia akan selesai mendengarkan semua lagu itu saat usianya genap 80 tahun. Bibi Buni memutuskan bahwa sekaranglah saatnya menikmati kenangan tersebut. Saatnya mendengar lagu itu satu per satu dan terlempar dalam kenikmatan mengenang.

Bibi Buni mengambil pensiun dari pekerjaannya. Hidup dengan uang tabungan kemudian berdiam di rumah dan mendengarkan lagu seharian.

Headphone selalu melekat di kupingnya. Saat di kamar mandi, lagu kenangan ia putar lewat sebuah komputer dengan volume maksimal. Ia mandi di bawah shower sebagai seorang yang terus menua. Namun lagu kenangan akan terus menariknya mundur, membuatnya tetap muda dari hari ke hari.

Hampir sepuluh tahun kemudian, proyek Bibi Buni masih berjalan lancar. Tak ada gangguan berarti, kecuali headphone yang sering rusak yang membuatnya rutin ke toko elektronik sekali dalam dua bulan. Namun semakin dekat hari ulang tahunnya yang ke 60, proyek Bibi Buni mulai mengalami gangguan. Semula ia mengira headphone-nya rusak lagi, atau sudah saatnya ia mengganti lagi mp3 player. Ia pun bergegas ke toko elektronik langganannya. Memborong dua lusin headphone dengan kualitas terbaik, serta tiga buah mp3 player keluaran terbaru.

Sesampainya di rumah ia langsung mendengarkan lagu kenangan untuk hari itu. Namun Bibi Buni harus kecewa karena kualitas headphone ini ternyata tidak lebih baik. Bibi Buni pun cepat-cepat kembali dan mengomeli si pemilik toko yang berkali-kali memohon maaf.

Setelah mengomeli pelayannya, si pemilik toko memberikan dua lusin headphone baru dengan kualitas terbaik dari yang terbaik.

Lagi-lagi ia harus kecewa. Bibi Buni menghadapi kenyataan yang sama lagi. Ternyata headphone itu sama sekali tidak lebih baik. Keterlaluan! Ini penipuan! Dan ini terjadi di hari ulang tahunnya. Padahal, ia sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan setia toko tersebut. Bibi Buni akhirnya memutar lagu kenangan untuk hari itu melalui komputer.

Lagu yang diputar hari itu adalah lagu reaggae. Ia langsung hanyut dalam kenangan begitu lagu itu diputar. Itu adalah lagu yang ia dengar  saat Bibi Buni 40 tahun, di tepi pantai, sendirian. Kenangan yang pahit sebenarnya. Namun bahkan kenangan pahit sekalipun tetap memberikan sensasi kenikmatan saat dikenang. Bibi Buni seharian bergoyang santai dengan iringan lagu reagge-nya. Sampai ia beranjak tidur, kenikmatan mengenang masih menderap di hatinya. Sesaat sebelum terlelap, ia masih mendengar desir ombak.

Esoknya, seusai mandi dengan diiringi musik dari komputer, Bibi Buni pergi ke toko elektronik itu lagi. Ia ingin menuntut uangnya kembali. Toh, masih banyak toko lain. Ia meninggalkan rumahnya diiringi denting piano dan suara serak seorang penyanyi yang melagukan kebalauan. Di mobilnya ia memutar kembali lagu itu. Lagu yang ia rekam saat dulu usianya 32 tahun.  Lagu yang memberinya sensasi kebalauan yang nikmat.

Saat tiba di tempat parkir toko ia menunggu sejenak sampai lagunya selesai baru kemudian turun. Begitu ia menjejakkan kaki, serentak usia tua menyergapnya. Ia berjalan dari tempat parkir ke toko itu sebagai nenek-nenek 60 tahun.

Si pemilik toko menyambutnya dengan ramah. Setelah Bibi Buni selesai dengan protesnya, sang pemilik toko dengan pelan dan sesopan mungkin mengatakan bahwa tak ada yang salah dengan barang-barang mereka. Bibi Buni mengernyit karena suara si pemilik toko lebih kecil dari biasa. Menyadari hal ini, si pemilik toko mengulangi perkataannya dengan berusaha tetap sopan namun dengan suara yang lebih dikeraskan.

Bibi Buni tidak mengerti. Atau, ia tidak ingin langsung mengerti. Ia tahu sebagian orang menjadi tuli ketika mereka semakin tua. Tetapi bagi Bibi Buni ini sangat berbahaya. Jika ia kehilangan kemampuan mendengar, bagaimana ia akan menjalani hari-harinya tanpa mengenang? Masih ada ribuan lagu yang belum ia dengar. Ia ingin terus muda bersama lagu-lagu itu.

Si pemilik toko menyarankannya ke dokter telinga. Mungkin ia juga perlu membeli alat bantu dengar. Bibi Buni langsung berbalik dan meninggalkan toko itu tanpa permisi.

Apa yang ia dengar dari dokter THT adalah apa yang tidak ingin ia dengar. Oleh dokter, Bibi Buni disarankan untuk berhenti mendengar musik. Terutama menggunakan headphone. Alat itu telah membuat kerusakan parah pada indra pendengaran Bibi Buni. Menggunakan alat bantu juga tak ada gunanya, terang si dokter. Kerusakan pada indra pendengaran Bibi Buni sudah terlampau parah.

Kerusakan ini sebenarnya sudah dimulai bertahun-tahun. Namun karena Bibi Buni terus meningkatkan volume suara musiknya dan mengganti headphone secara rutin, kerusakan ini akhirnya terlambat disadari.

Pada perjalanan pulang, Bibi Buni menyetir dalam ledakan tangis. Bagaimana bisa proyeknya gagal seperti ini? Lihat, berapa banyak lagu yang akan sia-sia! Bayangkan berapa banyak hari yang akan ia lalui tanpa mengenang. Dari hari ke hari, kemampuan mendengar Bibi Buni semakin buruk. Suara-suara surut perlahan seperti gumpalan-gumpalan awan yang menguap di musim kemarau. Melankoli menenggelamkan Bibi Buni semakin dalam.

Sebelum ia genap 61 tahun, Bibi Buni sudah tak mampu mendengar sama sekali. Akan tetapi, lagu-lagu itu tetap berputar di kepala Bibi Buni. Lagu-lagu yang pernah didengarnya kini tumpang tindih dalam ingatan Bibi Buni. Dunia bisa saja hening, namun di kepalanya, lagu-lagu itu berputar dalam kebisingan.

Ia terombang-ambing dari satu masa hidup ke masa hidup yang lain. Dalam satu waktu ia terlempar ke masa remaja, di menit berikutnya ia terlempar ke masa paruh baya. Seringkali ia menjadi begitu gembira dan begitu sedih pada menit yang sama. Ia menangis dan tertawa. Menari dan meratap sekaligus.

Bibi Buni terus hidup dengan musik yang berputar kacau di otaknya. Beranjak tua kemudian berbalik muda dalam hitungan menit. Kenangan menyeretnya seperti roller-coaster. Membawanya terbang kemudian menghempaskannya.

Menyeretnya masuk ke dalam labirin memori yang tak sudah. Dalam histeria yang meluap-luap serta lagu kenangan yang beresonansi di sekujur tubuhnya.

Melankoli tak pernah seindah ini.


Jogjakarta



Komentar

  1. Kok aku relate banget ya sama Bibi Buni ��

    Trus juga barusan aja aku mikir, gimana kalo abis ini aku jadi ga bisa melihat lagi

    Cerpen yg cukup menarik mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kebiasaan semua orang, mendengar musik sambil mengenang.

      ga bisa melihat, maksudnya?

      terima kasih, hehehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Bibir Dalam Pispot