Tentang Lombok



Labuhan Haji

Beberapa waktu lalu, aku mengunjungi sebuah blog dengan tulisan-tulisan yang menarik. Penulis blog tersebut kelahiran Flores. Ia menyediakan satu halaman khusus berjudul Flores. Tulisan itu cukup menggugahku. Bukan bermaksud mengekor sih, tapi sedikit banyak memang pengalaman yang dia alami dan ceritakan di situ tidak jauh berbeda dengan yang kualami, serta sejumlah temanku—bahkan hampir semua temanku yang berasal dari Lombok
.
Aku, sebagai anak Lombok, kadang sering disodori pertanyaan yang bikin sakit hati. Tapi ada juga pertanyaan yang cenderung konyol, dan alih-alih membuatku tersinggung aku malah terhibur dan mendapat bahan untuk iseng
.
Bagimu, anak Lombok yang baru keluar daerah dan mungkin sekarang tengah memulai tahun pertamamu di desa orang, pertanyaan-pertanyaan berikut ini sangat mungkin diajukan. Well, jika kau kebetulan mampir di sini dan membaca tulisan ini, semoga tulisan ini bisa sedikit membantumu dan mengurangi efek kejutnya saat kamu diatanyai nanti. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan tersebut
.
1. Lombok itu di mana?
Jangan merasa terhina, karena belum tentu maksudnya menghina. Kalau satu dua orang yang menanyakan pertanyaan ini, mungkin kita bisa mengklaim orang tersebut ‘kupeng’ (kurang pengetahuan). Tapi lain kasus kalau hampir semua orang yang baru kita kenal mengajukan pertanyaan ini
.
Pertanyaan ini mungkin saja tulus. Si penanya benar-benar tidak tahu dan dia menanyaimu tanpa maksud merendahkan. Namun, anehnya ketulusan inilah yang membuat kita sakit hati. Apakah Lombok tidak sebegitu pentingnya? Apakah pengetahuan orang-orang cuma mentok sampai ke Bali, sementara yang lain hanya pulau-pulau kecil yang terserak tanpa nama?
.
Saya tidak tahu apakah pertanyaan ini sekarang masih sering diajukan. Empat tahun yang lalu, ini adalah salah satu pertanyaan wajib dan hampir pasti diajukan. Mungkin karena promosi wisata yang belakangan ini cukup gencar juga, sehingga kata Lombok sekarang lebih sering diikuti kata “Bali” atau “pantai.”
.
“oh.. yang dekat Bali itu, ya mas?” atau kadang, “iya, saya pernah lihat di tipi. Pantainya bagus-bagus y?”. Hmm.. yang ini sebenarnya masih mending. jauh lebih baik daripada, “busung lapar”, dan “perang”. Pernah juga ada yang menanyaiku; “mananya Tidore?” “di Sulawesi?” “dekat Irian?”
.
Ada juga yang pernah mengira kalau Lombok itu salah satu kabupaten di Sumatera. Gara-gara dulu aku sempat akrab dengan anak palembang. Sering berbicara dengan anak yang dialek palembangnya kental ini membuatku ketularan memakai satu-dua kata dalam logat palembang
.
Akhirnya si penanya, lewat analisis yang cermat menanyaiku, “oh.. Lombok? Di Sumatera mana itu?”
Semoga saja, untuk ke depannya pertanyaan ini tidak lagi diajukan
.
2. Sudah ada Listrik?


Kalau pertanyaan ini diajukan sebelum bulan Juli ini, aku akan menjawabnya dengan salah tingkah. Sampai Juni kemarin, khususnya di Lombok Timur, terjadi pemadaman bergilir. Tehitung semenjak bupati yang baru terangkat tahun 2009 kemarin
.
Salah satu jargon bupati tersebut sebelum diangkat adalah: “adil dalam kegelapan”. Sebelum ia terangkat, listrik hanya bisa dinikmati dengan leluasa oleh masyarakat Lombok Timur bagian selatan. Daerah bagian utara, yang dulu pernah mengandalkan PLTA milik swasta tidak seberuntung di daerah selatan. Bangkrutnya PLTA tersebut adalah penyebab utamanya
.
Kebijakan bupati tersebut mendapat protes keras. Anehnya protes ini tidak sedikit dari daerah basis kekuatannya—termasuk desaku, yang terang-terangan memilih meski sudah tahu programnya. Keluhan santer terdengar tiap kali terjadi pemadaman
.

Well, I don’t know…. Namun semenjak Juli kemarin, pemadaman tidak ada lagi
.
Jadi, nanti kalau ada yang menanyakan pertanyaan ini, kamu bisa menjawab jujur; “sudah ada kok, dan sebenarnya sudah dari dulu!”. Kecuali kalau memang ingin berbuat iseng. Kadang aku sendiri, kalau usilnya lagi kambuh, mengembang-ngembangkan cerita. Betapa primitifnya Lombok dan betapa eksotisnya hidup dengan temaram lampu teplok
.
3. Orang Lombok itu pedes/judes/kasar?


Inilah pertanyaan yang paling menjengkelkan. Kadang tidak berupa pertanyaan, tapi tebakan serampangan. Kecuali kalau diungkapkan dengan nada guyon, aku malas menanggapi pertanyaan ini. Maksudku, bayangkan saja, kamu baru kenal beberapa menit, dialog yang terjalin masih sepatah dua patah kata. Kemudian dari sebuah jawaban sederhana mengenai daerah asal, tiba-tiba kamu dicap judes atau kasar
.
Kita bisa membedakan mana pernyataan yang bersifat canda. Aku sendiri sudah terbiasa dengan kata, “waah pedes dong!”, yang kadang kubalas, “biarin, yang penting, kan orangnya manis…hehehe”. Tapi lain halnya kalau orang yang baru ku kenal itu lebih ngotot. “beh…orang Lombok itu suka perang kan?” JDER! Atau masih dalam konteks ‘pedes’ tadi, kadang ada yang masih melanjutkan, “beneran ko’ mas… orang sana tuh jutek-jutek!”
.
Aku kuatir sikap jutek itu justru lahir dari stereotip tersebut. Kejengkelan yang muncul secara spontan karena dicap negatif oleh orang yang baru dikenal beberapa menit. Kalau kita membuka Wikipedia, kata Lombok memiliki label ‘disambiguisasi’. Lombok sebagai nama rempah (yang pedas) serta Lombok sebagai nama pulau.
Sayangnya di situ tidak dijelaskan apa persisnya arti Lombok sebagai nama pulau. Khususnya dalam bahasa Sasak, bahasa daerah Lombok
.
Dalam bahasa sasak, Lombok bukan dibaca dengan ‘o’ seperti kata lombok dalam bahasa jawa. Bukan seperti ‘o’ dalam “lorong”, namun menggunakan ‘o’ seperti dalam kata “soto”. Lombok, dalam bahasa sasak berarti “lurus”
.
Lalu, bagaimana orang-orang Lombok menyebut cabe, yang dalam bahasa Jawa di sebut lombok? Dalam bahasa sasak, cabe disebut ‘sebie’ untuk cabe rawit, dan ‘sebie beleq’ untuk lombok atau cabe besar
.
Justru sebenarnya, dalam bahasa Sasak, lombok yang berarti lurus sangat identik dengan kebersahajaan, kemudahan, tidak rumit. Orang yang Lombok adalah orang yang bersahaja, mudah, dan tidak ruwet. Kadang dalam doa-doa orang tua kata ini pun disertakan. “ke, mudah-mudahan ne Lombok lengan ne, Lombok hidup ne,” yang kira-kira berarti, “semoga jalanmu dipermudah, hidupmu mudah.”
.
Well, tentu saja tidak semua orang Lombok otomatis orang-orang yang bersahaja dan lurus. Kalaupun kamu memang mengenal satu dua orang Lombok yang memang kebetulan judes, tidaklah adil jika orang-orang tersebut dijadikan patokan. Jangan-jangan, dia malah judes, atau terlihat judes karena kamu sendiri sedari awal sudah mengkonstruk image ‘judes’ pada diri orang tersebut
.

4. Suka perang?


Tetangga kosku yang lama pernah bercerita. Dia punya teman seorang pelaut. Suatu hari temannya yang pelaut ini bersama teman-temannya dalam sebuah tugas menepi di Lombok menggunakan perahu
.
Sebelum menepi, pelabuhan sudah ramai. Orang-orang menyembul dari balik bebukitan. Orang-orang pribumi ini, kemudian mengacung-ngacungkan tombak bahkan sebelum perahu itu menyentuh bibir pantai
.
Sayangnya tidak ada kelanjutan cerita bagaimana persisnya temannya yang pelaut itu, tokoh utama kita, berhasil selamat dari serangan orang-orang pribumi yang buas dan ganas. Saya ngakak mendengar cerita ini. Kalaupun ceritanya benar-benar terjadi, pasti settingnya pada zaman kerajaan Selaparang dulu. Atau pada masa-masa awal invasi kerajaan Karangasem Bali ke Lombok
.
Mungkin temannya yang pelaut itu tanpa sengaja terbawa arus laut yang misterius di selat Lombok yang ganas. Sebuah lubang hitam yang telah lama bersemayam di situ menyedot perahu mereka. Kemudian, DUAR! mereka terlempar ke masa lalu. Kapal TNI AL mereka tenggelam. Dan hanya satu perahu kecil yang berhasil diturunkan
.
Setelah terombang-ambing sekian lama di selat Lombok, mereka berhasil menepi. Sialnya, orang-orang pribumi mengira perahu yang baru datang ini utusan kerajaan Karangasem Bali. Dengan penuh dendam mereka pun mengacung-ngacungkan tombak sebagai sambutan
.
Inilah kemungkinan yang paling masuk akal. Karena jika kamu, suatu hari terdampar di Lombok, (semoga saja tidak tersedot oleh lubang hitam) dan kamu sampai di tepi pantainya dengan selamat tanpa mengalami lompatan waktu, orang-orang yang mendapatimu terdampar tidak akan mengacungkan tombak. Mereka pasti mengulurkan tangan dan segera membawamu ke rumah sakit terdekat
.
Adapun alasan lain yang membuat orang-orang ini menganggap di Lombok itu sering perang adalah pemberitaan media. Iya, memang, berita kerusuhan di Lombok kadang muncul di TV. Tapi aku tidak tahu seberapa sering bila dibanding berita kerusuhan di daerah lain
.
Dalam mata kuliah Sistem Sosial Budaya yang kuambil kemarin, dosen kami memberi tugas untuk menulis tentang konflik daerah/perang lokal yang pernah terjadi di daerah masing-masing. Dari 49 mahasiswa di kelas itu, aku satu-satunya yang berasal dari Lombok
.
Apakah aku satu-satunya yang memiliki bahan untuk tugas makalah ini? Sayang sekali tidak. Semua, tanpa terkecuali, dari mana pun asalnya, memiliki bahan untuk tugas liburan tersebut. Setiap makalah berisi perang lokal, perkelahian antar kelompok atau antargeng, kerusuhan, dan berisi darah serta merenggut nyawa. Iya, semua makalah berisikan hal itu
.
Menyimpulkan perang sebagai hobi di Lombok gara-gara pemberitaan di TV sama saja menyimpulkan semua orang Surabaya bermental BONEK setelah menonton sebuah pertandingan sepak bola yang berakhir ricuh
.
5. Kenapa kamu tidak hitam?

Ini bukanlah pertanyaan yang bikin sakit hati ataupun tersinggung. Ini pertanyaan yang akan menyentuh kemanusiaan siapapun, selama ia masih memiliki rasa kemanusiaan dan menjunjung tinggi persamaan harkat dan martabat setiap orang. Ini, pertanyaan yang dengan sendirinya mengungkapkan level moralitas orang yang bertanya
.
Aku pernah ditanya sekali, dengan nada sinis pula. “kenapa kamu tidak hitam? Orang Lombok itu, kan hitam-hitam dan kribo!”. Kalau pertanyaannya memang tulus, bahwa selama ini ia mengira orang sasak itu memang hitam dan kribo, menurutku tidak masalah. Mungkin dalam benaknya, pulau Lombok terselip entah di mana, di suatu tempat di Indonesia
.
Dan aku, kalau seandainya aku memang hitam dan kribo, aku tidak mengalami masalah apapun dengan warna kulit dan jenis rambut. Apa yang sebenarnya ingin ia ungkapkan dari kata hitam dan kribo? Apakah yang tidak hitam dan rambutnya lurus memiliki kualitas lebih baik dari yang ‘hitam’ dan ‘kribo’?
.
Tapi, yah, pertanyaannya sama tidak pentingnya dengan dia sendiri. Aku cuma menanggapinya dengan malas. Sayang sekali, tinggal di kota yang cukup besar, dengan akses pengetahuan yang luas, serta kulit putih dan rambut lurus, bersemayam pemikiran yang masih primitive. Rasis!
.
Aku tidak menanggapinya dengan serius saat itu. Aku juga tidak mendebatnya bahwa orang-orang sasak memiliki kulit dan rambut yang tidak berbeda dengan orang Jawa, Bali, atau Sumatera. Karena dengan mendebatnya, toh sama saja aku membenarkan anggapannya yang rasis tersebut. Seolah-olah aku berjuang mati-matian untuk disertakan ke dalam kelompok tertentu yang dia anggap lebih baik
.
Kalau kamu mendapat pertanyaan seperti ini, terutama dengan nada sinis, sebaiknya tidak usah ditanggapi!
.

Sebenarnya masih banyak pertanyaan lainnya yang ingin kubahas di sini. Pertanyaan seperti, apakah benar Lombok lebih indah daripada Bali? Apakah masakan Lombok memang pedas-pedas? Termasuk anggapan enaknya tinggal di Lombok karena dekat dengan benua Australia. Apakah Lombok pulau yang kecil? Kemudian angka kriminalitas, terutama pencurian yang (katanya) ngetren di Lombok. Termasuk menikah adat Lombok yang terkenal dengan istilah; merari’, atau kawin lari
.
Ada juga anggapan keliru bahwa kuda liar ada di Lombok. Atau kerancuan orang membedakan Lombok dengan Sumbawa. Jangankan Lombok dengan Sumbawa, kadang orang ragu apakah Lombok termasuk NTB atau NTT
.
Tapi tulisanku sudah terlalu panjang.

Komentar

  1. saya setuju tuch... Lombok lebih ramah dari pulau lainnya.. buktinya jarang ad berita mengenai lombok dalam segi kriminal..... klo dijawa udah sangat parah, mulai dari penculikan, pembunuhan sampe anak garap ibu kandung sendiri....

    BalasHapus
  2. hehehe..
    betul-betul-betul, di sini malah kejahatannya sudah aneh-aneh. sekarang aja di jogja ada psikopat berkeliaran dan hobinya ngebacok..

    trims sudah mampir. blognya semeton juga bagus, tukeran link yuk!

    BalasHapus
  3. Kata Lombok sangat menarik, banyak artinya. Tpi kdang org2 meng identikkan dgn pedas padaha? Lombok = lurus (bhs. Sasaq), dll. Kanaq Sasaq saq solah, solah endah daerah ne :)

    BalasHapus
  4. hehehe, betul hen. banyak yang salah ngartiin kata Lombok. padahal kan kanaq-kanaq sasak solah-solah. Lombok juga solah. trims Hendra.

    BalasHapus
  5. he he huda...............

    semangat yach.... terus nulis

    BalasHapus
  6. iya Ok
    trima kasih..
    kamu bisa nyasar ke sini juga ternyata? hehehe

    BalasHapus
  7. ah, kalau menurut saya sih sifat orang itu ngga ngaruh darimana dia berasal... emang bawaan orang itu aja kali...

    BalasHapus
  8. aku dari Pontianak, dan pertanyaan paling sering terlontar adalah Pontianak itu dimana? Sulawesi ya? hahaha, padahal mah kan di kalimantan..

    ataupun kalau ada yang tahu kadang merasa takut karena pontianak terkenal dengan kerusuhan antar suku awal tahun 2000an dulu. Padahal sekarang seh udah tenang2 aja :D

    masih banyak seh, tapi kalau ditulis bisa jadi satu buku, hahaha

    BalasHapus
  9. Eks@
    siip...
    Trims Eks

    Niee@
    hahaha... kayanya pelajaran PPKN mesti digalakkan. atau mungkin sekolah-sekolah mesti ngadain pertukaran pelajar antarprovinsi juga--jangan cuma ke luar negeri doang.

    sedih memang kalau daerah ada yang gangerti daerah kita, apalagi berpikir negatif sama etnis. huh!

    BTW aku punya temen dari Pontianak, namanya Siti. tapi ga tahu persisnay di pontianak daerah mana...

    Trims Niee

    BalasHapus
  10. nice info... jadi pengen ke lombok abis ini... hahahaha

    BalasHapus
  11. hoed...hoed....tulisanmu 'menyegarkan'...aku suka bacanya!

    BalasHapus
  12. Saya bukan orang asli Lombok, dan lebih dari 6 tahun tinggal disana. siapa bilang orang Lombok kasar? mereka ramah dan selalu bersemangat. Disana juga indah, keluarga saya lebih memilih tinggal di Lombok daripada di Jawa. Menurut saya disana itu tempat yang indah. Bahkan ketika sekarang saya tinggal di Bandung, ga ada hari, dimana saya gak kangen Lombok, apalagi pantainya.

    BalasHapus
  13. Saya berharap suatu saat dapat mengunjungi lombok. dengar-dengar pemandangan alamnya sangat indah.. semoga suatu saat kesampaian bisa kesana.. salam kenal dari riau..

    BalasHapus
  14. nuel@
    haha, ayo buruan..

    Mb Fahim@
    tanks! ^^

    Eii Riss@
    oh yaa??
    ayoh kapan ke lombok lagi?

    Firdaus Herliansyah@
    semoga impiannya suatu saat bisa kesampaian mb :). pastinya setiap daerah di Indonesia semuanya indah mb... bukan begitu.

    salam kenal juga

    BalasHapus
  15. aku baru baca tulisanmu yang ini. iya, menyegarkan. tapi emang tulisan2mu menyegarkan, Hud! makasih udah share ttg Lombok ya. moga suatu saat aku bisa ke sana. amiin.

    BalasHapus
  16. Lombok, dari dulu aku sudah jatuh cinta sama keindahan lautnya..
    Bahkan s4 ada angan2 bisa tinggal disana, tapi sumatera te2p jadi kampung halaman yg belum mampu kutinggalkan (nunggu ada yg beneran bisa ngajak ke lombok kali ya..?! wkwkwkwk :D)

    manggut2 heran baca postingan ini, bukan kenapa2.. cuma kepikirnya "hedeeewh, kasian tuh org2 kupeng yg kagak tau Lombok.. :("

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton

Menulis bebas (Free Association Writing)